@SukabumiFilms

Workshop | Produksi | Pemutaran | Perpustakaan | Distribusi | Festival

REGISTRASI NONTON FILM

Program

FESTA FILM SUKABUMI

Festival Film Rakyat Sukabumi.

Read More

KELAS FILM PENDEK

Kelas Film Pendek Gratis khusus pelajar dan Mahasiswa

Read More

TANCAP LAYAR

Setiap 1 bulan sekali.

Read More

TEMU KOMUNITAS

Temu Komunitas Film Indonesia.

Read More

RFSmi Dalam Berita

Minggu, 17 Juli 2016

BIKIN FILM YUUK!

BIKIN FILM YUUK!

A. Dasar pembuatan film
Langkah-langkah tersebut diantaranya adalah:
Temukan Ide Cerita
Kalau tak ada ide cerita, walaupun Anda punya kamera yang mahal dan bagus, film tak tercipta juga.  Untuk itulah, dalam proses produksi film, langkah pertama adalah temukan ide cerita Anda. Usahakan cerita dengan ide yang baru dan unik. Belum pernah ada sebelumnya.
Riset
Ini tak kalah penting. Riset inilah yang akan membawa film ada mempunyai reputasi yang tinggi. Apalagi kalau Anda sedang ingin membuat film bergenre sejarah.  Riset ini bisa dilakukan dengan misalnya membaca referensi, buku-buku literatur yang mendukung film tersebut, atau bisa juga misalnya dengan melakukan wawancara kepada tokoh-tokoh atau ahli yang terkait dengan tema film yang sedang digarap.
Casting
Ini terkait dengan rekruitment tokoh. Proses seleksi dan pencarian tokoh berbakat yang akan memerankan film tersebut. Baik itu tokoh utama, maupun tokoh tambahan. Dalam beberapa adegan, mungkin akan terjadi adegan ekstrem seperti perkelahian atau adegan ekstrem lainya. Untuk itu diperlukan tokoh pengganti. Dalam proses inilah semua itu berlangsung.
Shooting
Proses ini adalah tahap pengambilan gambar. Dalam proses ini sang sutradara menjadi ujung tombak dalam mengarahkan kameramen melakukan kerja-kerjanya.  Memang, kameramen pasti punya cukup keahlian untuk mengambil gambar. Tapi, sang sutradaralah yang menentukan bagaimana sudut pandang pengambilan gambar, mana yang harus ditonjolkan dsb. Begitu juga, saat shooting ini, sang sutradara juga mengarahkan tokoh-tokoh atau pemeran film tersebut agar sesuai dengan skenario yang telah disusun sebelumnya.
Editing
Inilah tahap akhir proses produksi film. Saat pengambilan gambar mungkin terjadi kesalahan-kesalahan. Dalam tahap inilah Anda atau tim Anda bisa melakukan editing atas sebuah film. Editing ini sebenarnya adalah proses penggabungan adegan-adegan film yang telah diambil gambarnya sebelumnya. Menambah efek-efek dalam adegan yang terekam, atau mengurangi atau meng-cut adegan-adegan yang tidak atau kurang perlu. Nah, setelah selesai proses pengeditan saatnya film itu diedarkan ke publik.
Pada umumnya cara pembuatan film sama saja, tidak terlalu memusingkan. Mungkin yang akan menjadi tantangan adalah bagaimana mewujudkan step by step pembuatan film tersebut. Berikut adalah langkah-langkah dasar yang bisa Anda tapaki :
1. Buatlah Ide
Carilah ide yang menarik, yang sensasional dan tidak pasaran. Biasanya orang suka menonton film karena merasa ada bagian dari film itu yang dekat dengan dirinya. Carilah tema yang unik tetapi dekat dan familiar di hati masyarakat.
2. Buatlah sasaran ide kita
Setelah mendapatkan ide, kita tentukan film kita mau ditujukan untuk siapa? Mahasiswa? Pelajar? Anak-anak? Keluarga? Bila kita sudah menemukan segmen yang tepat, akan lebih mudah bagi kita untuk menentukan alur cerita.
3. Sinopsis film
Tak akan ada sebuah film yang bagus tanpa sinopsis. Bahkan, film dokumenter pun memerlukan sinopsis untuk narasi dan menggambarkan cerita apa yang akan diusung. Buatlah sinopsis yang ringkas, padat, jelas, langsung pada sasaran, konflik yang jelas dan ending yang mengejutkan.
4. Naskah Skenario
Bila film telah selesai, buatlah skenario. Anda bisa meminta orang lain untuk menulis, lalu Anda mengurusi hal lain atau Anda tulis sendiri skenario Anda. Setelah skenario jadi, mulailah membuat film.
5. Mulai membuat Film
Tentukan story board film kita, tentukan lokasi, cari view yang bagus untuk lokasi agar sesuai dengan tempat yang diinginkan dalam skenario. Tempat yang sesuai mendukung cerita.
6, Siapkan alat-alat teknis
Siapkan kru. Siapkan lampu, kamera, setting, property, kostum, piñata make up, dan lain-lain sebagainya.
7. Tentukan budget
Setelah menentukan apa dan siapa yang kita inginkan, kita bisa memulai membuat budgetatau anggaran film. Tetapi lebih baik budget sudah disiapkan sejak awal.
8. Syuting dan Editing
Setelah mendapatkan izin dan lain sebagainya, Anda bisa mulai syuting. Begitu selesai syuting, adegan-adegan film diedit berdasarkan urutan scene di dalam skenario.
9. Review dan Revisi
Review, lihat ulang hasil film yang sudah Anda buat. Lalu revisi bila ada bagian scene yang jelek, bisa Anda buang. Bila ada scene yang kurang, bisa Anda tambahkan yang baru.
10. Buat promosi
Siapkan media untuk promosi seperti spanduk, iklan, trailer, pamflet, poster dan lain-lain.
11. Masukkan dalam DVD
Setelah film Anda finish, Anda bisa masukkan dalam keeping DVD. Dan gandakan keping DVDitu untuk keperluan pribadi, distribusi atau promosi.
Itulah tadi langkah-langkah dasar dalam membuat film. Tentu saja pelaksanaannya tidak semudah teori, namun tidak ada salahnya mencoba dan terjun langsung. Dengan mengerjakan sesuatu yang menurut kita susah, lambat laun akan menjadi mudah.
10 LANGKAH MEMBUAT FILM PENDEK
1. Riset Awal!
Kita cari tahu dulu tentang latar belakang yang ingin kita buat film. Kalau serius, riset ini harusnya sangat detail, tetapi kalau mau sederhana, kita bisa saja browsing dulu di internet atau bertanya kepada teman atau orang yang sudah mengalaminya. Kita catat data-data yang kita dapat tadi.
2. Siapkan Peralatan
Perlengkapan yang diperlukan adalah handycam atau kamera video apa pun beserta baterai dan charger. Jangan lupa bawa juga mikrofon tambahan dan kabel ekstensinya, tripod, dan yang paling penting, kaset-kaset kosong (bawa cadangan ya).
3. Riset Lapangan
Waktu sampai di tempat tujuan, kita harus melakukan riset lebih dalam dari riset awal yang sudah kita lakukan di rumah. Cocokkan data yang didapat saat riset awal dengan keadaan di lapangan.
Bagaimana caranya? Ya jalan, ngobrol, dan nongkrong! Santai dan berusaha akrab dengan lingkungan yang akan kita filmkan.
4. Buat Alur Cerita Kasar
Tentukan siapa saja yang mau diangkat sebagai tokoh dalam film. Biasanya, dari hasil riset di lapangan, kita bisa mendapatkan sebuah ide yang lebih spesifik dan menarik untuk diangkat dari ide awal kita di rumah. Misalnya, “Keseharian hidup badut di Dufan”. Kemudian, buatlah alur cerita kasar dari ide tersebut. Misalnya, tugas-tugas si badut di Dufan dan tempat-tempat wajib yang harus didatangi si badut.
5. Buatlah Sinopsis
Cerita singkat tentang seperti apa film yang kita buat ini. Dari sinopsis kita bisa menentukan siapa saja yang harus kita wawancara, daftar pertanyaan untuk setiap wawancara, dan daftar gambar-gambar (footage) yang dibutuhkan di luar wawancara.
6. Syuting atau Pengambilan Gambar
Dari hasil riset, kita sudah tahu di mana saja dan kapan saja orang-orang yang ingin kita wawancara berada. Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan untuk pengambilan gambar. Yang pertama, datangi dan minta izin mereka untuk melakukan wawancara. Ingat, jangan sekali-kali merekam wawancara tanpa izin! Tidak etis dan bisa bikin mereka tidak suka.
Kedua, jangan lupa menggunakan mikrofon tambahan ketika melakukan wawancara, apalagi kalau kita berada di tengah keramaian. Ketiga, gunakan daftar pertanyaan yang sudah dibuat sebelumnya sebagai acuan, tetapi jangan terlalu kaku, kita boleh bertanya hal-hal lain di luar daftar tersebut.
Keempat, buat suasana wawancara sesantai mungkin, bertanyalah seperti kita sedang mengobrol biasa. Sebab, keberadaan kamera video bisa membuat orang gugup, jaim, dan tidak bisa menjawab jujur.
Kelima, gunakan tripod bila wawancara berlangsung cukup lama dan tidak dilakukan sambil bergerak. Keenam, Selesaikan semua wawancara dari daftar orang yang sudah kita buat. Setelah itu rekam semua gambar yang sudah kita tulis dalam daftar footage kita. Kalau kita masih punya waktu dan kaset cadangan, kita boleh kok merekam gambar-gambar tambahan lain yang mungkin nanti bisa berguna saat tahap editing.
Ketujuh, setelah semua selesai direkam. Periksa lagi semua daftar yang kita punya. Baca lagi sinopsis awal kita. Apa semua sudah cukup. Jangan sampai ada yang terlupa.
7. Buat Alur Cerita Final
Sesuaikan hasil catatan dengan hasil wawancara yang sudah kita buat. Masih sesuaikah? Harus diubahkah? Ke arah mana harus dikembangkan?
Hal ini sangat mungkin terjadi karena hasil wawancara bisa banget menghasilkan data-data yang lebih banyak dan mungkin berbeda dari apa yang sudah kita siapkan sebelumnya. Enggak masalah kok. Perbaiki dan buat sinopsis baru yang bisa disusun dari hasil rekaman yang sudah kita tonton berulang kali.
Setelah selesai, barulah sinopsis final ini bisa jadi panduan untuk mulai mengedit.
8. Mengedit Film
Mulai capture hasil rekaman yang sudah kita pilih sebelumnya ke dalam komputer menggunakan program editing yang biasa kita pakai. Setelah itu susun film kita berdasarkan sinopsis final yang sudah kita buat sebelumnya.
Masukkan footage-footage yang kita sudah rekam. Buat alur semenarik mungkin, jangan terlalu banyak wawancara yang bisa membosankan. Idealnya, panjang film 8-12 menit.
9. Musik Latar atau “Soundtrack”
Tambahkan musik latar yang sesuai, jangan pakai musik orang sembarangan ya! Sebisa mungkin buat musik sendiri atau minta teman yang pandai membuat musik untuk membuatkan musik untuk film ini.
10. Terakhir, koreksi warna atau “color correction”
Masukkan opening title (pilih judul yang catchy dan bisa menggambarkan keseluruhan film), tambahkan credit title, mixing suara, wrap! Jadikan DVD biar bisa ditonton beramai-ramai.
sumber: https://ksmovies.wordpress.com/proses-pembuatan-film-pendek/

Jumat, 15 Juli 2016

Sukabumi Kota Sinema?

Sukabumi Kota Sinema?

"INGIN SUKABUMI MENJADI KOTA SINEMA?"
Terlalu PD (Percaya Diri) mungkin orang ini, dan sangat Nekad....
Artikel ini sebetulnya sudah saya tulis beberapa bulan kebelakang setelah dapet kabar bahwa tulisan saya dimuat di majalah NSP, karena saking asyik berimajinasi, baru malam ini saya posting.
Founder Ruang Film (Agus Permana)-Mengenai Film di Sukabumi
Salah satu rangkaian program Kelas Film Pendek (Edukasi Life Skill) yaitu digelarnya Workshop Film di Sukabumi. Program ini sudah berlangsung dari tahun 2015.
Workshop ini berupa pelatihan pembuatan film pendek sederhana, terbuka bagi pelajar mulai dari SD, SMP, SMA hingga Mahasiswa dengan bimbingan dari Relawan Ruang Film Sukabumi yang digagas oleh Agus Permana. “Para peserta dibimbing dalam mengembangkan ide, melakukan riset/penelitian, dan merancang produksi/pembuatan film sederhana.
Setelah mendapatkan materi teori dan praktik di ruangan seputar produksi film pada pertemuan pertama, para peserta akan melakukan riset/penelitian ke lapangan sesuai ide yang dikembangkan melalui diskusi kelompok.
“Saya jadi mendapat pengalaman baru, karena selama ini yang saya ketahui penelitian itu hanya di pelajaran Biologi, seperti meneliti organ tubuh katak. Di workshop ini kami juga dilatih berdiskusi,” ungkap Muhammad Sanusi siswa SMK Pasim Plus.

Workshop atau pelatihan ini bertujuan lebih pada mengenalkan pelajar  pada teknologi audiovisual dan bagaimana memanfaatkan teknologi tersebut untuk menghasilkan sebuah karya video seperti yang selama ini mereka saksikan di layar kaca, sehingga kelak film bisa menjadi pilihan masa depan. Selain itu bisa menjadi ruang alternatif dalam belajar film secara gratis juga untuk kegiatan yang positif dan kreatif dalam berkreatifitas.
Dari beberapa peserta yang mengikuti kelas film pendek ini, mereka rata-rata Tak Dapat Dukungan Sekolah. Rata-rata sekolah beralasan sedang berkonsentrasi pada mata pelajaran dan kegiatan semacam workshop yang berasal dari pihak luar harus disesuaikan dengan kurikulum yang ada. Tentunya tidak akan ada kurikulum sekolah  yang sesuai dengan kegiatan membuat film kecuali SMK dijurusan Multimedia dan Broadcasting itu pun tidak semua.
Akhirnya, melihat potensi dan keinginan kuat dari para pelajar, Ruang Film Sukabumi memutuskan dengan atau tanpa dukungan sekolah tetap menjalankan program workshop secara gratis. “Cukup dengan dukungan semangat dari peserta serta sepengetahuan dan dukungan orang tua murid. Bagaimanapun semua ini juga untuk kewajiban/kepentingan generasi penerus dan itu menjadi tanggung jawab kami yang selama ini bergerak di dunia video atau film yang mandiri dan belum pernah mendapat bantuan dari manapun,”

Ruang Film Sukabumi sengaja memilih kelas film pendek dengan harapan, para pelajar yang masih tergolong remaja tidak sekedar belajar membuat video, tapi juga melatih kepekaan dan kepedulian pada persoalan lingkungan sosial sekitar. Dan hasil dari produksi film pendek sederhana ini rencananya diputar dibeberapa sekolah dan festival, dan sebagian karya mereka sudah mendapat penghargaan ditingkat nasional, seperti di Festival Film Pelajar Jogja, Festival Film Surabaya dll.
Inilah bukti ke Pedean Agus Permana dengan gaya Nekadnya membuat program kecil-kecilan yang mungkin sangat penting dengan visi menuju Sukabumi Kota Sinema.!!!


Salam Sinema
Ruang Film Sukabumi 2016

Minggu, 03 Juli 2016

UU-nya yg keblinger atau LSF-nya yg kurang kerjaan ?

UU-nya yg keblinger atau LSF-nya yg kurang kerjaan ?

Ini tulisan dulu sih, anak Sukabumi musti tahu nih,,,!
JAKARTA, KOMPAS.com -- Bukan hanya film yang tayang di bioskop saja yang harus melewati Lembaga Sensor Film (LSF), tetapi termasuk juga film-film yang diputar oleh komunitas. 

Juru bicara LSF Rommy Fibri menegaskan, aturan tersebut tercantum dalam Undang-undang Nomor 33 tahun 2009 tentang perfilman. 

"Semua film yang akan dipertunjukkan di Indonesia mesti mendapat surat tanda lulus sensor (STLS) dari LSF," tuturnya kepada Kompas.commelalui pesan WhatsApp, Rabu (16/3/2016) malam. 

"Dalam kategori teknisnya, semua film yang akan diputar di bioskop, televisi, festival atau komunitas terbatas dan juga penjualan-penyewaan (DVD) maka mesti mendapat STLS," tambahnya. 

Masih kata Romy, film tak terbatas pada karya fiksi dan genre lainnya, tetapi juga film dokumenter. 

"Jika menyangkut hasil kerja jurnalistik, tidak. Kalau sifatnya film non-jurnalistik, ya mesti sensor," ujarnya. 

Romy bersama jajaran LSF berharap seluruh sineas Tanah Air sadar akan pentingnya sensor sebelum penayangan, terutama bagi film-film yang diputar oleh komunitas terbatas. 

Pasalnya, LSF belum dapat menjangkau film komunitas tanpa inisiatif pembuat filmnya sendiri. 

"Sampai hari ini LSF masih fokus pada film yang didaftarkan, yang dalam setahun mencapai sekitar 46.000 lebih," tutur Romy.

Penulis: Andi Muttya Keteng Pangerang
Editor: Irfan Maullana

Film Rudy Habibie

Film Rudy Habibie


Director: Hanung Bramantyo
Creator: Manoj Punjabi
Actors: Reza Rahadian, Chelsea Islan, Indah Permatasari, Ernest Prakasa, Dian Nitami, Boris
Bokir, Donny Damara, Pandji Pragiwaksono
Rudy Habibie (Habibie & Ainun 2) merupakan film “prekuel” dari Habibie & Ainun (2012) yang sangat sukses secara komersil pada saat itu. Rencananya film ini pun juga akan ada sekuelnya. Film besutan sutradara Hanung Bramantyo ini berkisah tentang Habibie muda (Reza Rahadian) yang sedang mengenyam pendidikan di RWTH Aachen, Jerman. Di sana Habibie menghadapi berbagai macam problematika kehidupan mahasiswa diantaranya seperti masalah finansial, politik, dan kisah cintanya dengan seorang mahasiswi Jerman, Ilona (Chelsea Islan).
Dari awal hingga akhir film kita dipertontonkan berbagai macam adegan yang serba dramatis. Sejak dari awal p ketika kota kelahiran Rudy kecil dibombardir pesawat sekutu, berlanjut pada ayah Rudy yang meninggal, uang kiriman Rudy yang terlambat, gejolak politik masa itu dan tentu saja kisah cintanya dengan Ilona. Semuanya bercampur-aduk dengan iringan musik yang hampir tanpa henti sepanjang film. Semuanya terasanya terkesan berlebihan. Alih-alih membuat kita trenyuh atau terinspirasi namun justru ini membuat penonton seakan-akan kehilangan arah filmnya.
Kelemahan lain juga pada sisi cerita adalah konflik yang muncul silih-berganti kurang dikupas secara mendalam dan penyelesaian masalah pun juga terkesan instan. Sisi roman pun juga tidak jauh berbeda. Kisahnya kurang mampu menggabungkan sosok Rudy yang visioner dengan kisah cinta dengan Ilona. Konflik yang ia hadapi dalam merealisasikan ide-idenya sangat sedikit yang melibatkan Ilona sehingga seperti berjalan terpisah. Beberapa kali juga unsur religi dimasukan dalam film ini namun lagi-lagi rasanya hanya seperti tempelan untuk lebih mengharumkan sosok Rudy itu sendiri.
ari sisi akting Reza Rahadian menjadi yang paling menonjol. Dia sangat baik membawakan tokoh Habibie. Melalui cara bicara, gestur, mimik muka yang dengan pas dihadirkan Reza tanpa terkesan berlebihan. Chelsea Islan dan Indah Permatasari juga bermain baik meskipun tidak semenonjol Reza namun kehadiranya mereka berdua mampu memberi kesegaran dalam filmnya.

Secara estetika, sebenarnya film ini bisa dibilang baik. Sinematografi, setting serta musiknya pun sebenarnya cukup baik bersinergi, hanya saja karena kelemahan sisi naratif membuat aspek teknis terasa terabaikan. Habibie adalah sosok besar dalam perkembangan industri dirgantara di nusantara. Sosoknya sebagai salah satu orang paling pintar di Indonesia tentunya menyisakan banyak rasa penasaran untuk lebih mengenal kehidupan pribadi sang tokoh secara mendalam. Film ini mencoba untuk menginspirasi kita melalui perjalanan hidup seorang Habibie, namun apakah ini semua dirasa sudah cukup? Atau justru kita malah balik bertanya, apa sebenarnya yang telah Habibie berikan untuk bangsa ini? Film ini belum bisa memberikan ini semua dengan baik.
link: http://montasefilm.com/rudy-habibie/

Blogging

30 Sanser
Kerjanya santai tapi serius
30 Networking
Menjalin komunikasi antar komunitas film di Indonesia
40 Awarding
Selalu apresiasi terhadap karya lokal

TIM MANAJEMEN

Agus Permana
Founder/Programer
Gilang Luigi
Production
Iman Aliansyah
Equipment Departemen
Apni Andara (April)
Sponsorship
Dinar Nabila Murthy
Co. Komunitas
Hendrika Hijriya
Database
Vera Ardelia
Creative Departemen
Mareyinda Jihan S
Festival

HUBUNGI KAMI

Mari Berjabat Tangan

Ruang Film Sukabumi sangat terbuka untuk kerjasama dengan berbagai individu, komunitas, kelompok studi, siapapun asalkan berkaitan dengan film.

Mabes:

KOMPLEK STUKPA POLRI Jl. Prana Cikole Kota Sukabumi-Jawa Barat

Waktu:

Free (dikondisikan)

Telp/sms:

0857 2458 5795